Bahaya Intuisi

Bahaya Intuisi

Bahaya Intuisi

Bahaya Intuisi

Intuisi bukan hanya panas

tetapi ia juga merupakan bagian besar dari pembuatan keputusan manusia. Akan tetapi, kebenaran komplementernya adalah bahwa intuisi seringkali keliru. Kesampingkanlah, untuk sesaat, pikiran rasional Anda dan alat-alat analitik yang melayaninya. Letakkanlah tongkat pengukur itu dan ambillah napas dalam-dalam, santaikanlah tubuh Anda, diamkanlah pikiran Anda yang kecanduan berbicara, dan dengarkanlah indera keenam Anda. Dengarkanlah nyanyian lembut yang ia tuturkan kepada Anda, secara langsung dan seketika.


Anda mungkin pernah menyaksikan sebagian efek-efek penglihatan, yang merupakan sebagian di antara lusinan ilusterasi mengenai bagaimana kebiasaan-kebiasaan otak dalam mencerap dunia—kebiasaan-kebiasaan yang pada umumnya memampukan intuisi yang tepat—kadang-kadang menuntut kita, sebagaimana bisa disaksikan oleh para pengemudi dan pilot yang terluka [tidak bisa disaksikan oleh mereka yang mati]. Banyak hal yang mungkin dengan cara tertentu tampak benar-benar berbeda. Apakah kesalahan-kesalahan intuisi ini hanya terbatas pada tipuan-tipuan penglihatan semata? Pertimbangkanlah beberapa pernyataan sederhana ini. Lagi-lagi, ikutilah nasehat kaum intuitif untuk mendiamkan pikiran otak kiri Anda yang linier dan logis, kemudian bukakanlah diri Anda untuk menerima bisikan-bisikan dan kearifan batin Anda.


Intuisi-intuisi kita bisa keliru. Karena secarik kertas memiliki ketebalan 0,1 milimeter, maka ketebalannya setelah dilipat 100, dengan masing-masing penggandaan dari ketebalan sebelumnya, menjadi 800 trilyun kali jarak antara bumi dan matahari. Sepanjang seluruh sejarah umat manusia, nenek moyang kita setiap hari melihat matahari melintasi langit. Ini setidaknya memiliki dua penjelasan yang masuk akal: a) matahari memutari bumi, atau b) bumi berputar sementara matahari tetap berada di tempatnya. Intuisi lebih menyukai yang pertama. Sementara observasi-observasi ilmiah Galileo menghendaki yang kedua.


Menurut David G. Myers [2002], psikologi yang dipelajarinya terkadang meneguhkan intuisi masyarakat. Sebuah pernikahan yang langgeng dan committed adalah kondusif bagi kebahagiaan orang tua dan perkembangan anak. Sementara itu, kemerdekaan dan perasaan-perasaan terkendali [feelings of control] yang dicerap adalah kondusif bagi kebahagiaan dan pencapaian. Tetapi, pada saat yang sama, intuisi-intuisi kita yang tanpa bantuan mungkin mengatakan kepada kita bahwa keakraban menumbuhsuburkan rasa jijik, bahwa mimpi-mimpi memprediksikan masa depan, dan bahwa swa-penghargaan yang tinggi selalu bermanfaat bagi gagasan-gagasan yang tidak didukung oleh bukti yang ada.


Bahkan California Task Force to Promote Self-Esteem mengakui dalam laporannya bahwa anggapan yang “tepat secara intuitif”—bahwa swa-penghargaan yang tinggi mengarah pada perilaku-perilaku yang dikehendaki—selama ini hanya sedikit mendapatkan dukungan. Adalah benar bahwa mereka yang memiliki harga diri tinggi lebih sedikit terkena risiko depresi, tetapi harga diri tinggi juga memiliki sisi gelapnya sendiri. Banyak kekerasan justeru berasal dari kebocoran ego-ego yang dilambungkan.


Berdasarkan paparan di atas, intuisi dapat dijadikan sebagai sumber salah satu kebenaran yang sifatnya emergence. Hal ini karena intuisi dapat muncul di saat manusia dalam kondisi terpepet karena waktu sementara itu, ia harus memutuskan sesuatu yang sedang dipikirkan. Tentunya, kebenaran intuisi adalah kebenaran yang bersifat tentatif dan relatif, bukan sebagai kebenaran absolute seperti wahyu yang diyakini oleh orang yang beragama. Dalam realitasnya, intuisi memiliki kekuatan sekaligus kelemahan yang secara praktis dapat dilihat dan diamati dalam kehidupan empiris.


Baca Juga :