Catatan KPAI, Kekerasan Anak di Pendidikan Jakarta Tinggi

Catatan KPAI, Kekerasan Anak di Pendidikan Jakarta Tinggi

Catatan KPAI, Kekerasan Anak di Pendidikan Jakarta Tinggi

Catatan KPAI, Kekerasan Anak di Pendidikan Jakarta Tinggi
Catatan KPAI, Kekerasan Anak di Pendidikan Jakarta Tinggi

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebut tingkat kekerasan anak di dunia pendidikan wilayah DKI Jakarta masih tinggi dibandingkan wilayah lainnya.

Berdasarkan catatan KPAI, terdapat sembilan kasus kekerasan anak dari bulan Januari hingga April 2019 di wilayah DKI yang diadukan ke lembaga tersebut.

Lihat juga:Muhadjir soal Kasus Murid Bully Guru: Dulu Juga Ada

Dari data pengaduan yang dilaporkan kepada KPAI, sembilan kasus kekerasan itu tersebar di Jakarta Barat, Jakarta Utara, Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan.

Sementara itu sejumlah kekerasan anak di dunia pendidikan seperti lima kasus di Jawa Tengah, lima kasus di Jawa Barat, tiga kasus di Jawa Timur, empat kasus di Banten, tiga kasus di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Komisioner KPAI Retno Listyarti mengatakan sejumlah kasus kekerasan yang terjadi di Jakarta tidak hanya menimpa murid tetapi juga perundungan yang dilakukan siswa terhadap guru.

“Ada percobaan pemerkosaan yang dilakukan murid, terus juga misalnya DKI ini kekerasan fisik, bully yang guru ada dua yang satu di Kelapa Gading, dia merekam dulu gurunya terus di-dubbing dengan kata-kata tidak senonoh terus disebarkan ke media sosial, terus juga di Cilincing,” ujarnya usai konferensi pers soal Hari Pendidikan Nasional di KPAI, Jakarta Pusat, Kamis (2/5).

Retno memprediksi kekerasan di Jakarta bisa melebihi jumlah yang telah ditangani KPAI. Maka itu dia berharap Dinas Pendidikan DKI Jakarta mau memperbanyak Sekolah Ramah Anak (SRA) sebagai salah satu solusi untuk mengurangi angka kekerasan tersebut.

“Urgent dengan adanya ini (SRA) kita berharap angka kekerasannya turun. Mungkin yang tidak dilaporkan ke kita banyak, atau mungkin diselesaikan di level sekolah bisa jadi,” tuturnya.

Lihat juga:Mendikbud Akui 13 Persen Anak Tingkat SMA Belum Sekolah

Pergerakan Jakarta Lambat

Retno menilai pergerakan Pemerintah Kota DKI Jakarta masih terbilang lambat dalam menangani kasus kekerasan anak. Salah satunya terlihat dari pengadaan SRA yang masih berjumlah 315 sekolah dari 5000 sekolah di Jakarta.

Padahal pencanangan soal SRA telah dilakukan sejak 2015 silam.

“DKI ada cuma lambat, sudah empat tahun masih 315,” tuturnya.

Retno pun menceritakan awalnya Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Ratiyono salah memahami soal SRA. Ratiyono justru menilai SRA sama dengan Sekolah Aman.

Namun setelah dijelaskan, Retno mengatakan, Ratiyono pun baru memahami soal pentingnya SRA. Selanjutnya Ratiyono pun menargetkan sebanyak 1200 SRA tercipta dari 315 SRA yang telah ada saat ini.

“Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta memastikan bahwa sekolah ramah anak akan dipercepat, dari 315 ditargetkan 1.200 dan besok pencanangan untuk mencapai 1200, jadi langkahnya jelas,” ucapnya.

 

Sumber :

https://www.turnkeylinux.org/user/767055