Dahlan Ajak Mahasiswa Merancang Masa Depan

Dahlan Ajak Mahasiswa Merancang Masa Depan

Dahlan Ajak Mahasiswa Merancang Masa Depan

Dahlan Ajak Mahasiswa Merancang Masa Depan
Dahlan Ajak Mahasiswa Merancang Masa Depan

Selamat datang bapak, selamat datang bapak, dari kami yang ingin maju

bersama-sama…” Nyanyian dan iringan tepuk tangan dari 1.055 mahasiswa baru Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) itu mengiringi kedatangan Dahlan Iskan, Senin (28/8).

Mantan menteri BUMN tersebut hadir dalam pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru di perguruan tinggi yang baru saja menyabet akreditasi B tersebut.

Sebagai pemateri sesi motivasi, Dahlan menerangkan tentang kondisi ekonomi Surabaya. Status Surabaya sebagai kota terbesar kedua di Indonesia ditampik olehnya. Menurut dia, Surabaya berada di peringkat ke-10. Sementara itu, Jakarta berada di urutan 1–9.
Dahlan Ajak Mahasiswa Merancang Masa Depan
MOTIVASI PENTING: Dari kiri, Pengurus Yayasan RSI Surabaya bagian pengembangan bisnis Unusa Arif Afandi, Rektor Unusa Prof Achmad Jazidie, Dahlan Iskan, dan Ketua Yayasan RSI Surabaya M. Nuh. (Ghofuur Eka/Jawa Pos/JawaPos.com)

”Jakarta dan Surabaya bukan langit dan bumi, tapi langit dan sumur,” imbuhnya. Karena itu, Dahlan mengajak maba menuntaskan ketimpangan tersebut. Sebab, ketimpangan ekonomi memang menjadi tantangan besar negara ini.

Dahlan mengajak maba naik ke panggung. Mereka diminta bercerita tentang impian pada usia ke-28. Artinya, mahasiswa berandai-andai mengenai kehidupan mereka sepuluh tahun mendatang. Ada empat mahasiswa yang berani maju ke panggung bersama Dahlan.

Empat mahasiswa tersebut berasal dari latar belakang yang beragam

. Lontaran Rifky Adi Sulistio Wibowo, maba dari jurusan pendidikan bahasa Inggris, sempat membuat Dahlan heran. Sebab, impian Rifky dilatarbelakangi dendam. ”Saya mau jadi guru bahasa Inggris. Sebab, saya jadi musuh bebuyutan guru bahasa Inggris di MAN,” ujarnya.

Menurut Rifky, dirinya sering tertangkap tidur di kelas bahasa Inggris. Meski demikian, dia selalu bisa memahami pelajaran dengan baik. Karena itu, dia mengaku ingin merasakan menjadi guru bahasa Inggris. Selain itu, dia ingin menjadi aktor dan sutradara. Lagi-lagi, impian tersebut dilatarbelakangi dendam kepada guru seni budaya yang kerap memberinya tantangan.

Dahlan memuji dendam itu. Sebab, keinginan yang kuat memang sering diiringi dengan motif dendam. ”Drama televisi tentang dendam selalu menarik ditonton,” katanya disambut gelak tawa seluruh peserta. Selain itu, lanjut dia, dendam sering menjadi motivasi seseorang untuk maju.

Cerita lain datang dari Bintang Adi Kurniawan. Maba tersebut mengungkapkan keinginannya jadi pengusaha pada usia 28 tahun. Bahkan, dia ingin memiliki banyak perusahaan.

Hal itu ditanggapi Dahlan dengan sederet pertanyaan. Misalnya,

jenis usaha apa yang ingin digeluti dan bagaimana dia mendapatkan motivasi dari impiannya tersebut. Rupanya, Bintang sekadar pengin melihat tokoh pengusaha muda sukses di televisi.

Hal itu ditanggapi Dahlan dengan dua kesimpulan. Pertama, penyakit manusia sekarang adalah ingin cepat kaya. Yang kedua punya banyak perusahaan sekaligus. Padahal, menurut Dahlan, hal tersebut bukan perkara gampang. ”Harus tekun dan fokus di satu jenis usaha agar berhasil,” tegasnya.

Lantas, Dahlan mengisahkan pengalamannya mengelola usaha. Dia fokus membangun usaha di bidang media pada sepuluh tahun pertama. Karena itu, dia mengimbau para maba berfokus dalam satu jenis usaha hingga sukses. Setelah itu, mereka baru bisa merambah jenis usaha lainnya.

Pada sesi kedua, ada sembilan mahasiswa yang tampil. Semakin beragam pula impian yang mereka sampaikan. Semuanya mendapat pujian dan motivasi. Dahlan menyampaikan, semua maba tersebut tidak seperti anak semester satu. ”Kalau diteruskan, masih ada 200 lagi yang ingin maju dan waktunya habis. Semuanya hebat-hebat,” pujinya.

 

Baca Juga :