Faktor Pendorong Melakukan Konformitas

Faktor Pendorong Melakukan Konformitas

Faktor Pendorong Melakukan Konformitas

Faktor Pendorong Melakukan Konformitas

Ada beberapa faktor yang dapat mendorong seseorang untuk melakukan konformitas. Menurut Williams (2006), faktor-faktor tersebut antara lain:

  1. Ukuran kelompok dan tekanan sosial;

Konformitas akan meningkat sejalan dengan bertambahnya jumlah anggota kelompok. Semakin besar kelompok tersebut maka akan semakin besar pula kecenderungan kita untuk ikut serta, walaupun mungkin kita akan menerapkan sesuatu yang berbeda dari yang sebenarnya kita inginkan. Misalnya di SMA, sedang tren memakai tas ransel. Awalnya hanya beberapa orang saja yang pakai, lama kelamaan hampir seisi kelas menggunakan tas ransel. Si A yang pada awalnya menggunakan tas selempang akhirnya juga menggunakan tas ransel .


  1. Group unanimity(adanya kebulatan suara dalam kelompok);

Hal ini juga berkaitan dengan dukungan sosial. Misalnya, sebuah kelas terdiri dari beberapa mahasiswa ketika ada kelas asistensi satu sama lain pasti akan mencocokkan jadwal. Sebagian besar bisa di hari selasa tapi sebagian kecil tidak bisa pada hari tersebut. maka kesepakatan kelas asistensi diadakan pada hari selasa. Maka sebagian kecil yang tidak bisa pada hari itu dapat mengikuti asistensi KP lain.


  1. Cohessiveness (kekompakan kelompok);

Semakin kohesif suatu kelompok, maka akan semakin kuat pula pengaruhnya dalam membentuk pola pikir dan perilaku anggota kelompoknya. Misalnya, kita mempunyai teman yang terdiri dari empat atau lima orang dan kita dekat dengan mereka ketika mereka membeli barang baru maka kita secara tidak langsung mengikuti mereka dengan membeli barang yang sama juga.

  1. Status;

Orang yang memiliki status tinggi atau rendah dari yang lain, akan membuat seseorang lebih bebas untuk berbeda dengan orang lain. Orang yang memiliki status menengah biasanya lebih cenderung konformis. Misalnya, kelompok pasti mempunyai ketua dan anggota. Ketua bertanggung jawab atas anggotanya. Jika ketua memberi peraturan pada anggotanya untuk disiplin waktu untuk mengerjakan tugas maka mau tidak mau anggota harus menuruti peraturan tersebut.


  1. Public response;

Seseorang lebih konformis bila mereka harus merespon secara umum dibandingkan mereka merespon secara individual. Misalnya dalam suatu diskusi besar di kelas. Ketika guru menanyakan pendapat pada si A, si A akan menjawab langsung menurut pendapatnya sendiri meski teman-temannya menjawab berbeda dari yang diutarakan oleh A. Namun jika guru menanyakan bagaimana pendapat kelompok, anggota kelompok A yang lain menjawab ya, dan si A menjawab tidak, maka si A akan ikut-ikutan menjawab ya.


  1. Faktor norma dan informasi;

Meliputi keinginan untuk disukai, rasa takut akan penolakan, keinginan untuk merasa benar. Misalnya, 4 dari 5 orang anggota kelompok memiliki sifat periang, dan 1 orang lagi pemurung. Kemudian ia berusaha menjadi periang agar diterima oleh teman-temannya.


Baca Juga :