Ijinkan Aku Memelukmu

Ijinkan Aku Memelukmu

Ijinkan Aku Memelukmu
Ijinkan Aku Memelukmu

Sarah memilih angkat kaki dari rumah. Bukan benci pada mama dan papanya, meski dia juga yakin jika tengah dipermainkan emosi sesaat. Dia ingin menjernihkan pikiran, jauh dari rumah yang tak lain adalah saoraja, dan yang pasti penghuninya pun harus selalu bertindak sebagaimana layaknya ningrat.

Dia kesal pada mama dan papanya. Ya…kesal. Mungkin itu kata yang tepat untuk saat ini, karena membenci mama dan papanya, sarah tahu itu keterlaluan, ia tahu mama dan papa mencintainya dan dia bangga akan itu, tapi mereka menurutnya sangat terlalu.

“Sarah,kamu harus bisa membawa diri. Ingat nama lengkapmu, Andi Sarah! Seorang ningrat tak bisa di bedakan hanya dengan melihat wajahnya,tapi cara berpakaian,melangkah,dan bertutur!”

Sarah mulai bosan dengan kalimat seperti itu. Gelar ningrat yang di alirkan ke darahnya, seolah fluida beracun yang bisa saja mematikannya, bila dia tak bisa memerankan peran ningrat yang sesungguhnya. Saoraja, tempat tinggalnya, seperti sebuah bangunan yang mengekang kebebasannya.

“Kebebasan seperti apa lagi yang kamu minta?”

Kalimat papanya tadi malem, sempat membuatnya mengurungkan niat untuk pergi dari rumah. Mama dan papanya memang punya toleransi berlebih. Tidak seperti ningrat kebanyakan yang membatasi pergaulan anaknya. Harus sesama ningrat, atau paling tidak dengan anak orang terpandang, apa itu karena orangtuanya yang pejabat,atau orang kaya. Mama dan papanya tidak seperti itu, Sarah bahkan bebas membawa teman-temannya masuk saoraja,dan tidak memberi aturan pada teman-temannya untuk memanggilnya dengan nama lengkap, Andi sarah!

Katup toleransi mama dan papanya,tiba-tiba tertutup rapat, saat sarah mengajukan keinginan untuk mengikuti kontes kecantikan tingkat nasional. “Mau jadi model, mau jadi selebritis? Memangnya kamu belum merasa dikenal terlahir dari orangtua secakep papa?” awalnya papanya menanggapinya dengan lelucon, karena dia juga mengganggap sarah hanya bercanda.

“Sarah serius, pa.”

Papanya yang lagi asyik baca koran, merasa terusik dengan kalimat itu. Keinginan sarah itu, tidak hanya mengerutkan kening papanya,tapi juga mamanya yang sedang sibuk mengaduk teh celup.

“Apa aku kurang pantas jadi model?” Kepercayaan diri sarah,seolah runtuh melihat reaksi mama dan papanya, yang seolah tak memantaskan dirinya untuk jadi model. Padahal keinginannya untuk menjadi model, bukan hanya dia merasa cantik, tapi juga untuk yang kesekian kalinya, dia telah menjadi yang terbaik dalam adu kecerdasan,tingkat propinsi,bahkan nasional.
Bahasa asingnya pun tak hanya bahasa inggris, tapi juga nihon-go, bahkan mandarin.

Terlebih, keinginannya untuk ikut ajang ratu kecantikan itu, karena dia ingin mewujudkan niatnya untuk keliling dunia, bukan untuk shoping, tapi melihat kekuasaan Tuhan yang lain, dan membagi kasih lewat kegiatan2 sosial yang biasa di lakukan para pemenang kontes kecantikan.

“Papa tidak setuju, titik!” Tegas papanya saat seluruh argument dia lontarkan untuk meloloskan keinginannya. Papanya bahkan menghempaskan koran yang di bacanya, lalu meninggalkan sarah yang masih menatapnya penuh harap.
Mamanya yang melihat kesedihan di wajah sarah, mencoba menyentuh hati sarah dengan bujukan dan belaian. Tapi sentuhan itu tak berasa ke hati, karena mamanya pun tak memberi restu, cara penolakannya saja yang berbeda.

“Sarah, papamu benar. Apa sih asyiknya jadi model? Karena terkenal? Punya banyak uang? Harta dan ketenaran bukan jaminan kebahagiaan. Papamu nggak ingin kamu jadi sorotan publik, jadi bahan gosip, bahkan dicaci.”

“Ma, kenapa terlalu picik memandang selebritis? Selebritis apalagi model terpilih bukan hanya karena cantiknya, tapi juga kepinteran dan sikapnya selama di karantina.”

“Tapi apa yang terjadi setelah dia keluar dari karantina? Jadi bahan gunjingan, sikap bahkan senyumnya pun selalu jadi bahan kontroversi. Kamu mau, sebagai ningrat yang terpandang, tinggal di dalam saoraja, lalu digunjing sana sini? Kamu mau pintu saoraja ini tiap hari di ketuk wartawan, untuk meminta komentar mama dan papa tentangmu?

Orang lain boleh bangga, tapi mama dan papamu mengganggapnya aib. Mama sudah bangga dengan prestasi kamu di sekolah, mama nggak ingin lebih dari itu. Jangan pikir jadi selebritis itu asyik, kecuali kalau untuk bikin sensasi!”

Sepertinya tak ada celah lagi. Tak ada harapan untuk mewujudkan keinginannya itu. Jalan keluarnya Sarah memilih keluar rumah untuk sementara.

“Sarah bukan marah sama mama dan papa. Sarah cuman ingin melihat dunia luar, kebetulan ada temanku yang mengajak jalan-jalan ke kampungnya di Sulawesi Barat.”

Mama dan papanya seolah mengerti jika Sarah pergi membawa kecewa, dan mereka sepertinya tahu jika putrinya tak akan menyimpan benci apalagi dendam. Kasih sayang yang mereka curahkan selama ini cukup untuk menjaga Sarah saat jauh dari mereka.

“Papa melarangmu ikut ajang pemilihan model itu, karena mencintaimu. Kami tidak ingin publik merasa memilikimu sebagai idolanya, lalu memisahkanmu dari kami. Papa sudah terlalu tua untuk mendengar kalimat sumbang tentang dirimu, jika kelak kamu betul-betul jadi selebritis.”

Mamanya mengangguk mengiyakan kalimat papanya, juga mengiyakan kepergian sarah. Mendengar kalimat papanya, melihat tatapan tulus mamanya, kekesalan yang terpendam di balik dadanya,luluh seketika. Dia berat untuk melangkah, meninggalkan halaman saoraja, tapi dia terlanjur berjanji pada Fauziah, teman sekolahnya, untuk berkunjung ke kampungnya

Sumber : https://multi-part.co.id/cat-quest-apk/