Karakteristik Karya Sastra Indonesia Tiap Angkatan

Karakteristik Karya Sastra Indonesia Tiap Angkatan

Pernah mendengar angkatan di dalam karya sastra Indonesia? Angkatannya itu….

Ada angkatan 1945, angkatan Balai Pustaka, angkatan Pujangga Baru , dan beberapa angkatan lainnya.

Bingung?

Hayoo kamu jangan samakan angkatan karya sastra Indonesia bersama angkatan bersenjata republik Indonesia (ABRI). Sangat berbeda lho ya.

Kalau angkatan bersenjata itu tugasnya merawat keamanan dan keutuhan negara. Nah, kalau angkatan di dalam karya sastra Indonesia dapat ini dapat dikatakan sebagai penggolongan karya sastra ke di dalam suatu periode.

“Apakah karya sastra itu dapat digolongkan?”

Ya tahu dapat dong. Karya sastra yang muncul di suatu periode, sudah pasti bakal berbeda bersama karya sastra yang muncul di periode yang lain.

Berikut ini karakteristik karya sastra di tiap-tiap angkatan karya sastra.

1. Angkatan Sastra Indonesia Lama (Sebelum Tahun 1920)

Angkatan sastra ini lahir sekitar tahun 1500 sehabis agama Islam masuk ke Indonesia. Salah satu pujangga yang populer ialah Hamzah Fansuri dan Raja Ali Haji yang populer bersama “Gurindam Dua Belas”. Ada pun tanda-tanda karya sastra Indonesia lama ini ialah:

bahasa baku yang kaku;
bercerita tentang dewa-dewa/raksasa
cerita tentang kerajaan; dan
mengandung unsur keagamaan yang kuat.

2. Angkatan Balai Pustaka

Angkatan Balai Pustaka berdiri tahun 1917 bersama ditandai berdirinya Balai Pustaka. Para penulis/pengarang dan para pakar bhs Melayu, didaulat menjadi redaktur dari Balai Pustaka. Novel “Siti Nurbaya” karya Marah Roesli, novel “Azab dan Sengsara” karya Merari Siregar, dan novel Salah Asuhan karya Abdul Muis merupakan salah satu semisal karya sastra Angkatan Balai Pustaka.

Ada pun ciri karya sastra terhadap angkatan ini antara lain:

tidak mempunyai kandungan unsur menentang pemerintah
tidak menyinggung golongan spesifik di dalam masyarakat; dan
tidak memihak salah satu agama yang ada.

3. Angkatan Pujangga Baru

Angkatan ini ditandai bersama terbentuknya Majalah Poejangga Baroe. Karya sastra yang ada di angkatan ini antara lain, “Rindu Dendam” karya J.E. Tatengkeng dan “Nyanyi Sunyi”karya Amir Hamzah. Nah, kalau angkatan Pujangga Baru ini punya karakteristik lazim seperti:

bercorak politik
nasionalis
bertema pendidikan

4. Angkatan 1945

Angkatan 1945 terbentuk terhadap era kemerdekaan Indonesia. Salah satu sastrawan yang populer ialah Chairil Anwar. Ada beberapa karya dari Chairil Anwar yang hingga pas ini tetap sering kita dengar seperti puisi “Aku” dan “Krawang-Bekasi”.

Karakteristik karya sastra di dalam angkatan ini ialah:

bentuknya bebas
isinya merupakan realita; dan
cerita tentang merebut kemerdekaan.

5. Angkatan 1950

Angkatan 1950 merupakan angkatan kelanjutan dari angkatan 1945. Ada pengembangan karakteristik dari angkatan 1950 seperti:

pusat kegiatan sastra udah meluas ke seluruh pelosok Indonesia;
nilai keindahan terbentuk atas peleburan antara ilmu dan ilmu asing berdasarkan ukuran nasional; dan
kebudayaan area lebih banyak dimunculkan untuk mewujudkan sastra nasional Indonesia.
Karya sastra yang ada di angkatan ini antara lain “Balada Orang-orang Tercinta” karya WS. Rendra, “Dua Dunia” karya Nh. Dini, dan “Gadis Pantai” karya Pramoedya Ananta Toer.

6. Angkatan 1966

Angkatan ini muncul pas peralihan dari rezim Orde Lama ke Orde Baru. Beberapa sastrawan yang masuk ke di dalam angkatan 1966 antara lain Taufik Ismail bersama karya “Tirani dan Benteng”, Sutardji Calzoum Bachri bersama karya “Amuk”, dan Sapardi Djoko Damono bersama karya “Dukamu Abadi”.

Berhubung angkatan ini muncul di pas peralihan rezim, menjadi karakteristik yang dimiliki angkatan ini ialah:

bercorak politis;
beraliran surealistik; dan
banyak menyuarakan kritik sosial.

7. Angkatan 2000

Angkatan ini ditandai bersama pergantian millenium. Kalian tentu tahu dong novel “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata? Nah, itu termasuk angkatan 2000 Squad. Selain itu, novel “Ayat-ayat Cinta” karya Habibburahman El-Shirazy dan “Negeri 5 Menara” karya Anwar Fuadi, termasuk termasuk karya sastra angkatan 2000.

Ciri-ciri karya satra terhadap angkatan ini ialah:

bebas memainkan kalimat dan makna
mengangkat tema-tema dewasa; dan
bersifat kontemporer.

Baca Juga :