Kerusakan Kayu Selama Proses Pengeringan

Kerusakan Kayu Selama Proses Pengeringan

 

Menurut Dumanauw (1990) menyatakan bahwa pengeringan kayu diartikan sebagai proses yang bertujuan untuk mengeluarkan air yang terdapat di daam kayu. Dimana kadar air mempunyai pengaruh besar dalam proses pengeringan kayu ini.

Pengeringan kayu dapat diperoleh beberapa keuntungan, salah satunya mencegah serangan jamur dan bubuk kayu yang disebabkan oleh jasad renik perusak kayu yang tidak dapat hidup di bawah persentase kadar air kurang lebih 20%.

Pengeringan kayu ini dapat juga faktor yang mempengaruhi tahapan selanjutnya, seperti pengawetan dan lain sebagainya. Untuk jalannya tahapan selanjutnya membutuhkan kegiatan pengeringan yang efektif dan efesien dengan membutuhkan beberapa data, antara lain jenis kayu, sortimen (ukuran), kubikasi, kadar air kayu akhir yang diperlukan, waktu pengeringan yang digunakan, suhu, kelembapan, dan cacat-cacat yang ada pada kayu itu sendiri.

Ketika tahapan pengeringan selesai, ada kemungkinan memperoleh hasil yang baik maupun yang tidak baik. Dimana yang tidak baik ini memiliki beberapa kerusakan yang dialami, yaitu :

1. Kerusakan Akibat Penyusutan Kayu

Kerusakan ini diakibatkan karena kurang hati-hati dalam pelaksanaannya (Dumanauw, 1990). Kerusakan ini bermula dari jenis kayu yang sudah retak sebelumnya dan ketika dilakukannya pengeringan kemungkinan bisa melebarkan retak kayu yang sebelumnya.

Adapun beberapa dampak fisik yang diperlihatkan pada kerusakan ini, antara lain pecahnya ujung, pecah permukaan, menggelinjang, perubahan bentuk penampang kayu (diamonding), dan casehardening.

Menurut Dumanauw (1990) menyatakan bahwa kerusakan ini sukar dihindari tetapi dapat dikurangi dengan cara penumpukan yang baik dan meletakkan beban pemberat pada bagian atas tumpukan serta tidak memberikan suhu yang tinggi selama proses pengeringan.

2. Kerusakan Akibat Serangan Jamur Pembusuk

Kerusakan ini terjadi di bagian kayu gubal pada permulaan pengeringan, dimana jamur itu sudah melekat sebelum kayu dikeringkan. Kerusakan ini dapat dikendalikan melalui cara mempercepat proses pengeringan dengan suhu lebih tinggi. Dampak fisik yang dapat dilihat pada kerusakan ini adalah berubahnya warna kayu itu sendiri.

3. Kerusakan Akibat Bahan Kimia di dalam Kayu

Kerusakan ini terjadi ketika suhu waktu proses pengeringan terlalu tinggi dapat menyebabkan kandungan zat ekstraktif mengadakan reaksi terhadap panas yang ditimbulkan yang dapat mengubah warna kayu menjadi gelap (Dumanauw, 1999).

Recent Post