Kita Butuh Mendikbud Nadiem Makarim untuk Pidato Edisi Pembagian Rapor

Kita Butuh Mendikbud Nadiem Makarim untuk Pidato Edisi Pembagian Rapor

Kita Butuh Mendikbud Nadiem Makarim untuk Pidato Edisi Pembagian Rapor

Kita Butuh Mendikbud Nadiem Makarim untuk Pidato Edisi Pembagian Rapor
Kita Butuh Mendikbud Nadiem Makarim untuk Pidato Edisi Pembagian Rapor

Setiap pembagian rapor, ada saja pidato guru yang viral. Tahun ini seorang wali kelas

berpidato di WhatsApp story yang isinya menekankan tentang nilai akademis murid tidak penting-penting amat di masa depan kelak. Kata-katanya hampir serupa dengan surat cinta dari kepala sekolah di Bantul untuk wali murid yang viral dua tahun lalu. Nah, beberapa tahun sebelumnya ada surat bijak yang sama dari kepala sekolah di Singapura, begitu juga di Inggris.
Kira-kira isinya begini:

“Ujian anak anda telah selesai.

Saya tahu anda cemas dan berharap anak anda berhasil dalam ujiannya. Tapi, mohon diingat, di tengah-tengah para pelajar yang menjalani ujian itu, ada calon seniman yang tidak perlu mengerti Matematika. Ada calon pengusaha yang tidak butuh pelajaran Sejarah atau Sastra. Ada calon musisi yang nilai Kimia-nya tidak akan berarti. Ada calon olahragawan yang lebih mementingkan fisik daripada Fisika. Ada calon fotografer yang lebih berkarakter dengan sudut pandang art berbeda yang tentunya ilmunya bukan dari sekolah ini.”
Kalau sudah begini, kita tidak bisa melacak dari mana sumber aslinya. Akhirnya pidato guru itu menjadi layaknya jokes kodian yang tidak tahu siapa tangan pertama yang membuatnya. Semua itu bisa terjadi dimulai dari satu orang menjiplak tanpa mencantumkan sumber/kredit. Begitu seterusnya. Hingga kata-kata itu seolah menjadi milik bersama yang bisa dipakai siapa saja.

Tentu saja niat guru itu baik

, ingin mengingatkan setiap orang tua murid untuk membesarkan hati anaknya, bagaimana pun nilai rapornya. Namun, ketimbang mem-beo dengan pidato yang lebih dulu ada, mengapa tidak membuat pidato tandingan saja?
Sepertinya di bagian ini kita butuh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim untuk memberikan sepatah-dua patah kata dalam menyambut pembagian rapor anak sekolah. Dengan cara menjadikan pidato legendaris itu sebagai referensi, lalu menyanggahnya dengan pemikiran beliau yang cemerlang itu (terlihat pidato-pidato sebelumnya yang kontroversial), jadilah sebuah karya kreatif yang lolos dari plagiarism checker:
Jika seorang kepala sekolah di negeri antah-berantah pernah berkata bahwa calon seniman tidak perlu mengerti Matematika, saya tidak setuju. Saya khawatir pernyataan tersebut jadi pembenaran untuk murid mengabaikan ilmu pasti dan bermalas-malasan tidak mau mengerjakan PR. Alasannya, sudah punya bakat dan cita-citanya sendiri.

 

Sumber :

https://www.belajarbahasainggrisku.id/