Konsep Dasar Kematangan Belajar

 Konsep Dasar Kematangan Belajar

Kematangan (maturity) adalah suatu keadaan atau kondisi bentuk struktur dan fungsi yang lengkap atau dewasa pada suatu organisasi..[1] Kematangan membentuk sifat dan kekuatan dalam diri untuk bereaksi dengan cara tertentu yang disebut “Readiness” yang berupa tingkah laku, baik tingkah laku yang instingtif maupun tingkah laku yang dipelajari. Tingkah laku instingtif adalah suatu pola tingkah laku yang diwariskan melalui proses hereditas. Sedangkan maksud dari tingkah laku yang dipelajari yaitu orang tak akan berbuat secara intelijen apabila kapasitas intelektualnya belum memungkinkan.

Dari pemaparan diatas, dapat ditarik kesimpulan berdasakan karakteristiknya. meliputi:

1)      Kematangan adalah merupakan suatu keadaan atau tahap pencapaian proses pertumbuhan atau perkembangan.

2)      Kematangan dapat berarti matangnya suatu sifat atau potensi fisik yang menjadi secara kodrat akibat proses pertumbuhan dan hanya tergantung pada waktu belaka.

3)      Kematangan juga dapat berarti matangnya suatu fungsi atau potensi mental psikologis akibat proses perkembangan karena pengalaman dan latihan

4)      Kematangan potensi fisik dan mental psikologis itu merupakan suatu keadaan yang akan berfungsi sebagai prerequisite dalam proses perkembangan kearah pematangan fungsi atau potensi.

Dengan demikian, kematangan yang dimaksud adalah kematangan potensi fisik dan potensi mental psikologis yang telah dicapai dalam sutau tahap pertumbuhan atau perkembangan.

Sedangkan, belajar adalah kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Oleh karenanya, pemahaman yang mengenai arti belajar dengan segala aspek, bentuk, dan manifestasinya mutlak diperlukan oleh para pendidik. Kekeliruan dan ketidaklengkapan persepsi mereka terhadap proses belajar dan hal-hal yang berkaitan dengannya mungkin akan mengakibatkan kurang bermutunya hasil pembelajaran yang dicapai peserta didik.

Sebagaian orang beranggapan bahwa belajar adalah semata-mata mengumpulkan atau menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi/materi pelajaran. Disamping itu, ada pula yang memandang bahwa belajar adalah sebagai latihan belaka seperti tampak pada latihan membaca dan menulis. Untuk menghindari ketidaklengkapan persepsi tersebut , berikut ini akan disajikan beberapa  definisi dari para ahli.

            Skinner, seperi yang dikutip Barlow (1985) dalam bukunya Educational Psychology: The Teaching-learning Process, berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi (penyesuaian tingkah laku) yang berlangsung secara progresif.[2]

            Chaplin(1972) dalam dictionary of Psychologymembatasi belajar dengan dua rumusan yaitu; Pertama, belajar adalah perolehan perubahan-perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman. Kedua, belajar adalah proses memperoleh respons-respons sebagai akibat adanya latihan khusus.[3]

Menurut Wittig (1981) dalam bukunya Psychology of Learning mendefinisikan belajar sebagai perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam /keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman. [4]

Dari Pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan, bahwa belajar adalah suatu proses  adaptasi untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan latihan.

Recent Post