Landasan Pengetahuan

Landasan Pengetahuan

                  Setiap jenis pengetahuan mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai:

  1. Apa yang ingin diketahui (ontologi)
  2. Bagaimana cara mendapatkan pengetahuan itu (epistimologi)
  3. Apa kegunaan dari ilmu itu (aksiologi)

Landasan-landasan dalam pengetahuan ini saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Ontologi ilmu terkait dengan epistimologi ilmu dan epistimologi ilmu terkait dengan aksiologilmu dan seterusnya. Jadi, ketika kita ingin membicarakan ontologi ilmu, maka hal itu harus dikaitkan juga dengan ontologi dan aksiologi ilmu.

Pengetahuan dikumpulkan oleh ilmu dengan tujuan untuk menjawab permasalahan kehidupan yang sehari-hari dihadapi manusia, dan untuk digunakan dalam menawarkan berbagai kemudahan kepadanya. Pengetahuan sudah ada sejak zaman nenek moyang kita. Sejak dulu kala nenek moyang kita sudah berusaha untuk menjelaskan gejala alam yang terjadi di bumi ini  namun penjelasan itu  hanya sebatas tingkat pengetahuan, nalar dan daya pikir yang mereka mampu. Karena keterbatasan inilah banyak muncul mitos-mitos. Keberadaan mitos-mitos ini menunjukkan bahwa nenek moyang kita bukan saja mengerti mengapa sesuatu itu terjadi tetapi juga mereka tahu apa yang harus dilakukan agar hal itu tidak terjadi lagi.

Tahap selanjutnya manusia mulai mencoba meninggalkan mitos-mitos dan mulai mengembangkan pengetahuan yang mempunyai kegunaan praktis seperti membuat tanggul dan bercocok tanam. Lalu berkembanglah pengetahuan yang berasal dari pengalaman berdasarkan akal sehat yang didukung oleh metode coba-coba (trial error). Dari perkembangan pengetahuan ini lahirlah pengetahuan yang disebut “seni terapan” yang mempunyai kegunaan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Negara yang terkenal dengan perkembangan seni ini adalah Cina dan India.

Seni terapan yang mempunyai kegunaan langsung ini memiliki dua ciri. Ciri yang pertama adalah bersifat deskriptif dan fenomenologis. Sifat ini mencerminkan proses pengkajian yang menitikberatkan kepada penyelidikan gejala-gejala yang bersifat empiris. Jadi seni terapan ini tidak mengenal konsep karena langsung menuju pada gejala-gejala yang terjadi. Ciri yang kedua adalah bersifat terbatas dalam ruang lingkupnya. Sifat terbatas ini menyebabkan seni terapan tidak dapat menunjang berkembangnya teori-teori yang bersifat umum, sebab tujuan analisisnya bersifat praktis. Setelah secara empiris diketahui maka pengetahuan pun lalu berhenti di situ.

Perkembangan selanjutnya adalah tumbuhnya rasionalisme yang secara kritis mempermasalahkan dasar-dasar pikiran yang bersifat mitos. Dampak dari munculnya rasionalisme ini maka berkembanglah berbagai pendapat, aliran, teori dan mashab filsafat. Kelemahan dalam berpikir rasional seperti itulah yang menimbulkan berkembangnya empirisme yang menyatakan bahwa pengetahuan yang benar itu didapat dari kenyataan pengalaman. Untuk mengembangkan ilmu yang mempunyai kerangka penjelasan yang masuk akal dan sekaligus mencerminkan kenyataan yang sebenarnya kemudian lahirlah metode eksperimen yang dikembangkan oleh sarjana-sarjana Muslim pada abad keemasan islam yakni antara abad IX dan XII Masehi. Metode eksperimen merupakan jembatan antara penjelasan teoretis yang hidup di alam rasional dengan pembuktian yang dilakukan secara empiris. Metode eksprimen  diperkenalkan di dunia Barat oleh filsuf  Roger Bacon dan kemudian dimantapkan sebagai paradigma ilmiah atas usaha Francis Bacon. Francis  Bacon berhasil memperkenalkan metode eksperimen kepada para ilmuwan dan membuat para ilmuwan menerima metode ini sebagai kegiatan ilmiah. Dengan kata lain, secara konseptual metode ekperimen dikembangkan oleh sarjana Muslim dan secara sosiologis dikenalkan kepada masyarakat oleh Francis Bacon. Metode eksperimen mempunyai pengaruh yang penting terhadap cara berpikir manusia sebab dengan metode eksperimen berbagai penjelasan teoretis dapat diuji apakah sesuai dengan kenyataan empiris ataukah tidak. Dengan demikian

sumber :

Tank Battle: Pacific v1.3 Apk + Mod (a lot of money)