Mendikbud Bantah Anak Pelaku Bom Surabaya Anti Pelajaran Agama

Mendikbud Bantah Anak Pelaku Bom Surabaya Anti Pelajaran Agama

Mendikbud Bantah Anak Pelaku Bom Surabaya Anti Pelajaran Agama

Mendikbud Bantah Anak Pelaku Bom Surabaya Anti Pelajaran Agama
Mendikbud Bantah Anak Pelaku Bom Surabaya Anti Pelajaran Agama

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy

memastikan anak pelaku bom bunuh diri Gereja di Surabaya, Jawa Timur, tidak anti terhadap pelajaran Agama Islam dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.

Dengan begitu, Muhadjir membantah informasi di media soal anak perempuan berusia sembilan tahun yang meledakan dirinya bersama ibu dan saudara perempuannya tidak suka pelajaran PPKN dan Agama Islam di sekolah.

“Tidak bener itu. Saya sudah cek ke kepala sekolahnya kok. Mereka yang gede

juga jadi komandan upacara bendera. Biasa, sama seperti (anak yang lain),” ujar Muhadjir di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (15/5/2018).

Menurut Muhadjir, empat anak pelaku bom bunuh diri tidak memiliki indikasi radikal seperti orangtuanya, Dita Supriyanto dan Puji Kuswati.

“Nggak ada (indikasi radikal anaknya). Itu sangat spontan dari orang tuanya kelihatannya. Terutama orang tua yang lelaki,” kata dia.

Menurut Muhadjir, setiap sekolah sudah melakukan deteksi dini

paham radikal pada siswa. Salah satunya melibatkan pengawas, guru kelas, guru BP konseling.

“Secara sistem sudah jalan cuma ini terus berkembang. Terutama ide radikal dan ide teror ini modusnya semakin bervariasi dan ini sekolah harus lebih kreatif antisipatif,” kata dia.

Sebagaimana diketahui, terjadi ledakan peristiwa bom bunuh diri di tiga Gereja di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5/2018) pagi. Tiga Gereja itu yakni, Gereja Kristen Indonesia di Jalan Diponegoro, Santa Gereja Maria di Ngagel, dan Gereja di Jalan Arjuno.

Sebelumnya Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengungkapkan bahwa pelaku bom bunuh diri di tiga gereja adalah satu keluarga. Seluruh pelaku meninggal di tempat.

 

Baca Juga :