Pengertian, Faktor-faktor dan Cara-cara Motivasi Menurut Ahli

Pengertian, Faktor-faktor dan Cara-cara Motivasi Menurut Ahli

Pengertian, Faktor-faktor dan Cara-cara Motivasi Menurut Ahli

Pengertian, Faktor-faktor dan Cara-cara Motivasi Menurut Ahli
Pengertian, Faktor-faktor dan Cara-cara Motivasi Menurut Ahli

Pengertian Motivasi 

Pengertian motivasi dalam beberapa buku sumber diberikan pengertian secara berbeda dan beragam sesuai dengan cara pandang dari para penulis. Walaupun demikian kalau dilacak secara bahasa, maka istilah motivasi berasal dari bahasa latin yakni movere yang berarti menggerakkan, dorongan atau gejolak, motivasi berasal dari kata motif yang artinya sebagai daya penggerak, pendorong seseorang untuk melakukan aktifitas tertentu untuk mencapai suatu tujuan (Winardi. 2001). Motivasi adalah kegiatan memberikan dorongan atau aktifitas kepada sesorang atau diri sendidri untuk berbuat sesuatu dalam rangka mencapai kepuasan atau tujuan (Depdikbud. 1994). Motivasi kerja adalah sesuatu atau kondisi yang menimbulkan dorongan atau semangat kerja atau semangat bergerak (Martoyo. 2000). Kondisi yang dimaksudkan tersebut dapat berhubungan dengan ling-kungan kerja, demikian juga yang dimaksud dengan lingkungan kerja di sini adalah lingkungan sekolah. Sekolah sebagai suatu organisasai di dalamnya terdapat sejumlah orang yang berpartisipasi dan bekerjasama serta mempunyai peranan dan sangat penting untuk dapat digerakkan atau diberikan motivasi dalam rangka mencapai tujuan sekolah. Motivasi menjadi faktor penentu bagi perilaku orang-orang yang bekerja atau dapat dikatakan perilaku merupakan cerminan yang paling sederhana dari motivasi.
Untuk menambah wawasan dan khasanah yang lebih luas tentang pengertian dari motivasi tersebut tampaknya perlu juga dikutifkan beberapa pengertian motivasi di samping pengertian motivasi yang telah disebutkan dalam uraian sebelumnya, seperti Mangkunegara (2003) menjelaskan bahwa motivasi adalah kondisi yang menggerakkan dari dalam diri individu yang terarah untuk mencapai tujuan organisasi. Mcdonald yang dikutif Hamalik (1992) menjelaskan motivasi adalah suatu perubahan energy di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan. Kemudian Flippo (1984) yang memberikan pengertian motivasi sebagai suatu keahlian dalam menggerakkan pegawai dan organisasi agar mau bekerja, sehingga keinginan para pegawai dan tujuan organisasi dapat tercapai. Gorton (1976) menjelaskan bahwa motivasi adalah merupakan dorongan untuk melakukan suatu pekerjaan, dan motivasi erat hubungannya dengan kinerja atau performansi seseorang, motivasi kerja yang tinggi akan menyebabkan seseorang melakukan pekerjaan dengan lebih bersemangat, karena dalam melakukan pekerjaan tersebut ia melaksanakannya dengan senang hati dan dengan dorongan yang kuat untuk melakukannya.
Berdasarkan pada beberapa pengertian motivasi dalam uraian-uraian sebelumnya, tampaknya ada unsur persamaamnya yaitu bahwa motivasi tersebut merupakan dorongan dari dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu dengan baik sehingga tercapai tujuan suatu organisasi dengan maksimal juga. Kemudian kalau pengertian motivasi tersebut dikaitkan dengan tugas kepala sekolah sebagai seorang motivator dalam bidang pendidikan di sekolah, ini berarti bahwa seorang kepala sekolah tersebut harus mampu menciptakan kondisi atau lingkungan sekolah agar semua orang yang berpartispasi atau semua sumberdaya manusia terdorong dari dalam dirinya sendiri, memiliki harapan maupun terangsang untuk dapat melaksanakan tugasnya secara maksimal sehingga tujuan organisasi atau sekolah juga dapat tercapai dengan baik..

Faktor-faktor dan Cara-cara Memotivasi

Ada banyak faktor yang mampu memotivasi para pekerja, seperti situasi industrial kayawan yang bersangkutan dalam hal bisa lingkungan rumah tangganya, lingkungan masyarakat, kebutuhan, aspirasi, keinginan (Winardi. 2004). Faktor lainnya yang digunakan untuk memotivasi kerja adalah uang, karena uang dapat digunakan atau ditukar dengan barang-barang atau jasa yang bernilai ekonomis, yang dapat memuaskan kebutuhan fisiologikal dan kebutuhan dasar. Kebutuhan fisilogikal dan uang dalam pandangan orang banyak, maka uang merupakan simbol hasil yang dicapai, sukses, prestasi, atau kekuasaan sebagai sarana memenuhi kebutuhan sosial yang lebih tinggi. Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa keterbatasan uang sebagai sebagai alat memotivasi orang dalam melaksanakan pekerjaan dan menyatakan pentingnya kelompok kerja sebagai kekuatan yang memotivasi (Winardi. 2004). Kemudian ada juga pendapat yang menyatkan bahwa motivasi antara orang yang satu dengan orang yang lainnya sangatlah berbeda, ada banyak paktor yang mempengaruhinya, diantarnya adalah faktor kewibawaan, ambisi, pendidikan dan umur (Tery.dan Leslie W.Rue. 2001). Pendapat yang lainnya adalah bahwa motivasi seseorang sangat dipengaruhi oleh faktor individual dan organisasi. Faktor individual tersebut mencakup kebutuhan-kebutuhan, tujuan-tujuan, sikap, dan kemampuan-kemampuan. Kemudian faktor yang berasal dari organisasi tersebut mencakup gaji, keamanan pekerjaan sesama kerja pekerja, pengawasan, pujian, dan pekerjaan itu sendiri.
Berdasarkan pada uraian fator-faktor motivasi tersebut, maka sebagai seorang kepala sekolah dalam rangka memotivasi bawahnya atau semua sumberdaya manusia yang ada dalam organisasi sekolahnya seharusnya mempertimbangkan faktor yang bersifat individual maupun faktor organisasi sekolahnya. Seorang kepala sekolah agar dapat berhasil memotivasi bawahnyanya haruslah memperhatikan, mengenal, memahami, menghargai dan mencoba untuk memenuhi dengan segala peluang dan keterbatasanya berbagai kebutuhan-kebutuhan, tujuan-tujuan, sikap, dan kemampuan-kemampuan sumber-daya manusia yang ada di sekolahnya sehingga semua sumberdaya manusia tersebut terdorong, terangsang, dan memepunyai harapan-harapan dalam melaksanakan tugasnya dan bertugas dengan baik dan maksimal. Di sisi lain seorang kepala sekolah harus mampu mengelola semua material dan fasilitas yang ada di sekolah apakah menyangkut persoalan keuangan seperti gaji dan kesejahteraan yang lainnya, keamanan dan kenyamanan dalam melaksanakan pekerjaan, kekompakan dan kerja sama sesama pekerja, melakukan pengawasan, memberikan pujian dan penghargaan kepada bawahan, dan menumbuhkan kondisi agar para bawahannya menjadi mencintai pekerjaan itu sendiri.

Teori-teori Motivasi

Dalam sumber kepustakaan disebutkan ada beberapa teori tentang motivasi, dintaranya adalah: (1) teori motivasi berdasarkan harapan, (2) teori motivasi berdasarkan kebutuhan, (3) teori motivasi berdasarkan keadilan, dan (4) teori motivasi berdasarkan kepuasan.
1. Teori Motivasi Berdasarkan Harapan
Teori motivasi berdasarkan harapan beranggapan bahwa yang menjadi pendorong utama seseorang untuk dapat lebih giat bekerja karena adanya harapan yang disertai dengan penuh keyakinan, bahwa apa yang diusahakan atau dikerjakan akan berhasil. Ada beberapa variasi model teori, formulasi-formulasi teori yang lebih baru yang menyebut ada tiga konsep esensial yang menentukan, tinggi rendahnya motivasi harapan (expectancy) disingkat E, Valensi (valence) disingkat V, dan peralatan (instrumental) disingkat dengan I (Hoy dan Miskel, 1987).
Harapan merupakan keyakinan bahwa apa yang diusahakan oleh seseorang akan mengarah pada keberhasilan dalam mencapai tujuan. Harapan merupakan keyakinan subyektif seseorang dalam serangkaian kegiatan tertentu akan didapat suatu hasil atau tujuan positif yang tinggi. Misalnya seorang guru merasa yakin dengan usaha-usahanya sendiri dapat memperbaiki atau meningkatkan kecapakan hidup pada masyarakat yang kurang mampu, maka orang itu mempunyai tingkat harapan tinggi. Jadi tingkat harapan yang tinggi akan menyebabkan adanya motivasi yang tinggi. Valensi merupakan suatu tingkat kemenarikan atau keinginan seorang individu dikaitkan dengan suatu penghargaan. Sebab seseorang diberikan tugas melaksanakan perkejaan, maka untuk itu mereka diberi insentif, seperti, gaji, prestasi, kondisi kerja yang baik, kesempatan untuk maju dan sebagainya. Valenci ditentukan apabila mereka mengindikasikan apa yang mereka inginkan dari suatu pekerjaan. Valensi dikatakan tinggi bila terdapat ketertiban di dalam meningkatkan suatu usaha. Selanjutnya peralatan merupakan korelasi yang diperoleh antara melakukan suatu pekerjaan dengan menerima penghargaan.
Teori motivasi yang berdasarkan harapan dari Vroom ini dikembangkan oleh Porter dan Luwler, kemudian Nadler (Handoko, 2003., Atkinson (1964). Berdasarkan teori motivasi yang sudah ada, Atkinson mengembangkan teori Vroom dengan mengajukan teori motivasi berdasarkan harapan. Teori tersebut mempunyai generalisasi secara umum tingkah laku yang ditentukan oleh suatu relasi multiplikatif bukan aditif diantara harapan-harapan, peralatan-perlatan, dan valensi-valensi seseorang. Hoy dan Miskel (1987) menyatakan perbedaan konseptual yang mendasar dari teori Vroom dan Atkinson adalah bahwa Atkinson hanya memfokuskan pada satu jenis motivasi intrinsik, yaitu prestasi, sedangkan Vroom memfokuskan pada motivasi ektrinsik memandang kekuatan motivation dalam tiga variabel pada persamaan berikut: M = f (M x E x I ), Motivation = f (motive x expectancy x Incentive).
Ada beberapa istilah yang merujuk pada persamaan arti: (a) motive merujuk disposisi secara umum tentang individu yang berusaha untuk memuaskan kebutuhan. Hal ini menunjukan betapa pentingnya kebutuhan untuk dipenuhi, (b) expectancy kebutuhan subjektif tentang kemungkinan pemberian tindakan yang berhasil dalam memuaskan kebutuhan, dan (c) incentive adalah perhitungan subyektif tentang ganjaran yang diharapkan untuk mencapai suatu tujuan.
Menurut Atkinson terdapat tiga faktor motivasi yaitu motif, harapan dan insentif. Model Atkinson ini telah dites dalam sejumlah situasi experimental. Model ini telah diaplikasikan untuk mengukur kebutuhan-kebutuhan prestasi. Istilah-istilah persamaan diekspresi secara positif dan negatif. Motivasi untuk mencapai keberhasilan dan motivasi mengindari kegagalan (Hoy dan Miskel, 1987).

Motif

Para ahli psikologi berpendapat bahwa dalam diri individu ada sesuatu yang menentukan prilaku, bekerja dengan cara tertentu untuk mempengaruhi prilaku tersebut. Ada yang menyebut penentu prilaku tersebut dengan istilah kebutuhan atau need, ada yang menyebutnya dengan istilah motif, ada pula yang menggunakan kedua istilah tersebut secara bergantian, misalnya Miskel at. al (1967) dan Mc Clelland (1987) menggunakan istilah motif dan motivasi dalam arti yang sama, dan motif didapat dari hasil belajar. Selanjutnya ia mengatakan bahwa semua motif tentu didasari emosi akan tetapi motif itu sendiri tidak sama dengan emosi, dan bahwa motif merupakan dorongan untuk berubah dalam kondisi yang efektif. motif tidak dapat dilihat begitu saja dari prilaku, karena motif tidak selalu seperti yang tampak, kadang-kadang malahan berlawanan dengan yang tampak. Berdasarkan hal tersebut ia berpendapat bahwa untuk menemukan motif yang mendasari suatu perbuatan, cara yang terbaik ialah dengan menganalisis motif yang ada di dalam fantasi seseorang.
Atkinson (1983) menganggap motif sebagai suatu disposisi laten yang berusaha dengan kuat untuk menuju ke tujuan tertentu, tujuan itu dapat berupa prestasi, afiliasi, ataupun kekuasaaan. Motivasi adalah keadaaan individu yang terangsang yang terjadi jika suatu motif yang telah dihubungkan dengan suatu penghargaan yang sesuai misalnya saja, jika sesuatu perbuatan akan dapat mencapai tujuan motif yang bersangkutan.