Pulang Kembali dan Jadilah Suci

Pulang Kembali dan Jadilah Suci

Pulang Kembali dan Jadilah Suci

Pulang Kembali dan Jadilah Suci
Pulang Kembali dan Jadilah Suci

Setiap tahun kita merayakan Idul Fitri. Dan setiap tahun kita disuguhi kabar-kabar tentang mudik yang semakin hari semakin meningkat, baik jumlah populasi orang, kendaraan maupun tingkat kerawanan. Meningkatnya jumlah populasi pemudik baik yang menggunakan kendaraan pribadi maupun umum, membuka peluang tersendiri bagi orang-orang tertentu yang segera dapat menangkapnya. Ada perusahaan-perusahaan besar yang langsung menangkap peluang tersebut dengan membuka pos-pos tertentu di tititk-titik keramaian untuk menawarkan barang-barang dan jasa yang dikelolanya. Ada juga orang-orang kecil yang menangkap peluang tersebut dengan membuka kios-kios atau jasa tertentu baik itu tempat peristirahatan sekadar untuk melepas lelah, atau menjual makanan minuman penghalau lapar dan dahaga. Bahkan anak-anak kecil pun mampu menangkap peluang tersebut. Mereka terjun untuk meraup receh dengan menjual jasa membersihkan kendaraan-kendaraan yang berhenti pada perempatan atau di tempat-tempat tertentu, baik itu kendaraan beroda 4 atau roda 2. Semua itu sah-sah saja dan baik adanya. Semakin dekat dengan Lebaran, nampaknya hampir semua orang semakin sibuk. Media massa semakin sibuk mengabarkan informasi di sekitar dan yang berkaitan dengan kegiatan yang tiap tahun telah menjadi semacam “ritual” itu. Para pemudik sibuk dengan berbagai macam persiapan dan pelaksanaan mudik. Bahkan kita saksikan betapa banyaknya pemudik yang rela menunggu, berlelah-lelah, berdesak-desakan dan berebut kendaraan umum yang akan membawa mereka ke daerah tujuan. Mengamati kegiatan dan kesibukan menjelang, selama dan sesudah Lebaran kita diingatkan kembali bahwa bangsa kita masih sangat menghargai tradisi. Kita senantiasa diingatkan kembali untuk pulang kembali kepada kesadaran dan menjadikan diri kita suci, fitri, seperti sediakala kita diciptakan. Kita diingatkan lagi apakah persiapan kita semakin layak untuk pulang kembali ke tanah air keabadian dalam kondisi yang fitri itu. Mungkin kita pernah mendengar istilah “Forgiven but not forgotten”. Artinya memaafkan tapi bukan melupakan. Hal ini mengandung dua pendapat. Pendapat pertama beranggapan kalau sudah memaafkan harusnya ya dilupakan. Bukankah memaafkan berarti tidak mempersoalkannya walau hanya dalam hati? Pendapat kedua meyakini, memaafkan memang harus dilakukan tapi melupakan, nanti dulu. Rasa sakit itu masih terasa. Ada sebuah kisah tentang dua orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar, dan salah seorang menampar temannya. Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi tanpa dengan berkata-kata, dia menulis di atas pasir: HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENAMPAR PIPIKU. Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis. Di sana mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil diselamatkan oleh sahabatnya. Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu: HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU. Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya, “Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di atas batu?” Sambil tersenyum temannya menjawab, “Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila sesuatu yang luar biasa terjadi, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tidak bisa hilang tertiup angin”. Jika kita sadari benar, memendam luka atas kesalahan orang lain akan membuat jiwa seakan terikat belenggu kekesalan, kemarahan, kesakitan yang lambat laun menjadikan lemahnya hati untuk merdeka. Bagaikan selembar kertas putih, kita membiarkan tinta-tinta hitam kegeraman hati menitikkan noda-noda di hamparan kesuciannya. Memang tak mudah melupakan luka yang begitu membekas di lorong-lorong jiwa kita, terlebih kalau hal itu begitu menyakitkan. Tetapi apakah kita akan terus membiarkan hati dihantui perasaan kecewa dan sedih hingga keresahan hadir mengelilingi alam pikiran dan tindakan kita? Berusahalah untuk mengikis perlahan kristal-kristal hitam kekecewaan dengan membuka sedikit-sedikit pintu maaf untuk orang lain. Biarkan keikhlasan hati menelurusi lorong-lorong jiwa tanpa tersendat menuju kebersihan hati.. Ribuan maaf bisa kita mohonkan, tetapi mengapa satuan maaf tidak dapat kita berikan? Semoga di hari yang Fitri ini kita dapat pulang kembali pada kesadaran hakiki dan menjaga kesucian hati. Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia… ALLAH tahu betapa keras engkau sudah berusaha. Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih… ALLAH sudah menghitung airmatamu. Jika kau pikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu dan waktu serasa berlalu begitu saja… ALLAH sedang menunggu bersama denganmu. Ketika kau merasa sendirian dan teman-temanmu terlalu sibuk untuk menelepon… ALLAH selalu berada di sampingmu. Ketika kau pikir bahwa kau sudah mencoba segalanya dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi… ALLAH punya jawabannya. Ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa tertekan… ALLAH dapat menenangkanmu. Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapan… ALLAH sedang berbisik kepadamu. Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau merasa ingin mengucap syukur… ALLAH telah memberkatimu. Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban… ALLAH telah tersenyum padamu. Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi… ALLAH sudah membuka matamu dan memanggil dengan namamu. Ingat bahwa di mana pun kau atau ke mana pun kau menghadap… ALLAH TAHU. Kerabat Imelda, selama dua belas bulan dalam kebersamaan, tentulah ada gesekan, benturan dan ketidaknyamanan. Namun semua itu marilah kita tempatkan dalam kerangka pendewasaan dan pengembangan pribadi kita. Oleh karena itu, di hari yang fitri ini, dari lubuk hati yang paling dalam kami ucapkan, Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1432 H. Mohon Maaf Lahir Batin. Marilah memulai hari baru dengan semangat Idul Fitri

Sumber : https://mayleneandthesonsofdisaster.us/