Reformasi Kebijakan Industri

 Reformasi Kebijakan Industri

Peluang emas pada masa pemerintah SBY-JK untuk melakukan perubahan mendasar bagi Indonesia, Antara lain;

Pertama, mengubah sumber pertumbuhan ekonomi yang ditopang oleh konsumsi menjadi digerakkan oleh investasi dan ekspor. Lemahnya perencanaan dan koordinasi peraturan perundangan, baik tingkat vertical maupun tingkat horizontal. Terus terjadi. Oleh karena itu , di perlukan reformasi mendasar yang berkaitan dengan perbaikan iklim bisnis dan investasi  di Indonesia, yang mencakup setidaknya reformasi berikut:

  1. Reformasi Pelayanan Investasi

Dalam hal ini prosedur aplikasi, terlebih dahulu investor harus mendapatkan beberapa persetujuan, perizinan, dan lampu hijau dari BKPM atau BKPMD untuk tahap awal.

  • Tiga hal utama yang diinginkan oleh investor dan pengusaha yaitu: penyederhanaan sistem dan perizinan, penurunan berbagai pungutan yang tumpang tindih, dan transparansi biaya perizinan.
  • Reformasi dapat dimulai oleh pemerintah pusat atau pemda.

Kedua, para birokrat dan pejabat di pusat maupun daerah masih berprilaku sebagai PREDATOR dan belum menjadi fasilitator bagi dunia bisnis.

Ketiga, diperlukan rencana reformasi yang komperehensif dan berjangka menengah, setidaknya 5 tahun kedepan.

Belajar dari perencanaan pembangunan nasional di masa lalu, setidaknya di kenal beberapa kecenderungan.

  1. Belum di masukkannya dimensi spasial dalam perencanaan pembangunan.
  2. Pendekatan sektoral masih lebih menonjol dari regional
  3. Kebijakan pembangunan industri nasional kedepan adalah membangun daya saing industri dengan basis kluster dan kompetensi inti daerah,
  4. Belum dianutnya perencanaan antisifatif terhadap berbagai macam gangguan baik alam maupun manusia.[11]

BAB III

PENUTUP

grand strategi adalah suatu pendekatan secara keseluruhan yang kaitannya dengan pelaksanaan gagasan atau ide, perencanaan, dan pengambil keputusan sebuah aktivitas dalam

Sumber pertumbuhan ekonomi suatu negara atau suatu wilayah dapat dilihat atau diukur dari tiga pendekatan yaitu, pendekatan faktor produksi (Neo Klasik), pendekatan sektoral dan pendekatan pengeluaran yang meliputi konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah dan selisih ekspor dengan impor. Dalam pendekatan faktor produksi, sumber pertumbuhan ekonomi dilihat dari faktor-faktor produksi yaitu modal (capital), SDA, tenaga kerja (man power) dan kemajuan teknologi (technology progress). Selanjutnya, untuk melihat sumber pertumbuhan ekonomi dari pendekatan sektoral yaitu dilihat dari sektor-sektor ekonomi. Sektor ekonomi dalam hal ini dapat dibagi dalam 3 sektor saja yaitu sektor primer (pertanian dan pertambangan), sektor sekunder dan kontruksi serta sektor tersier (jasa-jasa).

Sumber :

https://cipaganti.co.id/bukalapak-pakai-kecerdasan-buatan-untuk-cegah-penipuan/