Sejarah Masuknya Islam di Sri Lanka

ISLAM MINORITAS DI SRI LANKA

Sejarah Masuknya Islam di Sri Lanka

Minoritas Muslim adalah bagian penduduk yang berbeda dari penduduk lainnya karena anggota-anggotanya mengakui Muhammad, putra Abdullah, menjadi utusan Allah terakhir dan meyakini ajarannya adalah benar, dan yang sering mendapat perlakuan berbeda dari orang-orang yang tidak mempunyai keyakinan seperti itu. Islam masuk ke Sri Lanka pada abad ke-7 M dibawa oleh pedagang Arab dari Arabia Selatan. Mula-mula dakwah melalui perdagangan, kemudian diteruskan dengan jalur perkawinan. Sejak awal masuk, muslim diterima baik oleh raja setempat dan mereka menjadi komunitas pedagang dengan Hubungan Internasional. Namun hubungan Arab dan Sri Lanka melemah sejak jatuhnya Baghdad pada 1258, dan digantikan dengan hubungan yang lebih kuat dengan Muslim India Selatan. Banyak di antara mereka beremigrasi ke pulau itu dan bercampur dengan unsur Muslim yang lebih dulu. Jadi penduduk Muslim saat ini menerima dari Arabia Selatan mazhabnya (Syafi’i) dan dari India Selatan sebagai bahasanya (Tamil) yang berbeda dengan Bahasa mayoritas (Sinhalese). Pada abad ke enam belas Muslim terpusat dengan baik di pantai barat daya dengan pusat-pusat utamanya di Kolombo, Beruwala, dan Galle.
Pada abad ke-16, Portugis masuk ke Kolombo. Portugis yang mendarat di Kolombo pada tahun 1502 memukul keras penduduk Muslim. Mereka menghancurkan kekuatan politik dan kemakmuran ekonomi, kemudian memulai kebijakan terror dan pengusiran secara sistematik. Secara resmi Muslim dipaksa keluar pada 1526 M dan Muslim sisanya dipaksa keluar pada 1626 M. Mereka menjadi pengungsi di daerah-daerah di pulau itu yang tidak berada di bawah pemerintahan Portugais, seperti Kandy, Sitawaka dan semua kota dan desa di pedalaman, sebagaimana juga di Utara (Purralam), dan di pantai timur (Kalmunai). Mereka akhirnya menjadi petani di pantai timur di mana banyak di antara mereka menjadi prajurit dalam ketentraman Sinhalese untuk memerangi Portugis.
Pada abad ke-17 Belanda datang ke Sri Lanka yang memerintah dengan kekerasan, membuat undang-undang yang melarang kaum muslimin melakukan kegiatan ibadah, menindas serta memaksa mereka membayar pajak kematian; yaitu bahwa setiap orang harus membayar pajak sebagai jaminan perlindungan kehidupan mereka, merampas harta benda mereka, dan melarang mereka melakukan aktifitas perdagangan atau berhubungan dengan para pedagang muslim lainnya. Namun peraturan yang diskriminatif ini dibatalkan pada 1832 oleh Inggris.
Sementara itu kerajaan Kandyan Sinhalese menjadi tempat perlindungan bagi orang-orang Muslim. Di kerajaan itu merekadiperlakukan dengan baik dan mereka menjadi beropengaruh dalam bidang keunggulan mereka, yakni perdagangan.
Akhir abad delapan belas Belanda memperkenalkan rancangan undang-undang yang memberlakukan ‘hukum keluarga Muslim’ bagi orang-orang Muslim.undang-undang ini tetap diberlakukan ketika Inggris menggantikan Belanda tahun 1796. Inggris memperlakukan Muslim agak baik selama masa penjajahannya.

Recent Post