Teori Kepribadian Humanistik

Teori Kepribadian Humanistik

Teori Kepribadian Humanistik

Teori Kepribadian Humanistik
Teori Kepribadian Humanistik

Pengertian Teori Kepribadian Humanistik

Teori humanistik (Yusuf Syamsu, 2007:141) berkembang sekitar tahun 1950-an sebagai teori yang menentang teori-teori psikoanalisis dan behavioristik. Serangan humanistik terhadap dua teori ini adalah bahwa kedua-duanya bersifat “dehumanizing” (melecehkan nilai-nilai manusia). Teori Freud dikritik, karena memandang tingkah laku manusia didominasi atau ditentukan oleh dorongan yang bersifat primitif, dan animalistic (hewan). Sementara behavioristik dikritik, karena teori ini terlalu asyik dengan penelitiannya terhadap binatang, dan menganalisis kepribadian secara pragmentasi. Kedua teori ini dikritik, karena memandang manusia sebagai bidak atau pion yang tak berdaya dikontrol oleh lingkungan dan masa lalu, dan sedikit sekali kemampuan untuk mengarahkan diri.

Teori humanistik dipandang sebagai “third force” (kekuatan ketiga) dalam psikologi, dan merupakan alternative dari kedua kekuatan yang dewasa ini dominan (psikoanalisis dan behavioristik). Kekuatan yang ketiga ini dinamakan humanistic karena memiliki minat yang eksklusif terhadap tingkah laku manusia. Humanistik dapat diartikan sebagai “orientasi teoritis yang menekankan kualitas manusia yang unik, khususnya terkait dengan free will (kemauan bebas) dan potensi untuk mengembangkan dirinya” (Yusuf Syamsu, 2007:141).

B.     Teori Kepribadian Humanistik Menurut Carl Rogers

Rogers adalah salah seorang peletak dasar dari gerakan potensi manusia, yang menekankan perkembangan pribadi melalui latihan sensitivitas, kelompok pertemuan, dan latihan lainnyayang ditujukan untuk membantu orang agar memiliki pribadi yang sehat. Dia membangun teorinya berdasarkan praktik interaksi terapeutik dengan para pasiennya. Karena dia menekankan teorinya kepada pandangan subjektif seseorang, maka teorinya dinamakan “person-centered theory” (Yusuf Syamsu, 2007: 143).

 

B.1. Konstruk (Aspek-aspek) Kepribadian

Karena perhatian utama Rogers kepada perkembangan atau perubahan kepribadian, maka dia tidak menekankan kepada struktuk kepribadian. Meskipun begitu, dia mengajukan dua konstruk pokok dalam teorinya, yaitu: organisme dan self (Yusuf Syamsu; 2007 : 143).

 

1)      Organisme

Organisme yaitu makhluk fisik (physical creature) dengan semua fungsi-fungsinya, baik fisik maupun psikis. Organisme ini juga merupakan locus (tempat) semua pengalaman, dan pengalaman ini merupakan persepsi seseorang tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam diri sendiri dan juga di dunia luar (external world). Totalitas pengalaman, baik yang disadari maupun yang tidak disadari membangun medan fenomenal (phenomenal field).

Medan penomena seseorang tidak diketahui oleh orang lain, kecuali melalui inferensi empatik, itu pun tidak pernah diketahui secara sempurna. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku itu bukan fungsi (pengaruh) dari realitas eksternal, atau stimulus lingkungan, tetapi realitas subjektif atau medan fenomenal.

 

2)      Self

Self merupakan konstruk utama dalam teori kepribadian Rogers, yang dewasa ini dikenal dengan “self concept” (konsep diri). Rogers mengartikannya sebagai “persepsi tentang karakteristik ‘I’ atau ‘me’ dan persepsi tentanmg hubungan ‘I’ atau ‘me’ dengan orang lain atau berbagai aspek kehidupan, termasuk nilai-nilai yang terkait dengan persepsi tersebut”. Diartikan juga sebagai “Keyakinan tentang kenyataan, keunikan, dan kualitas tingkah laku diri sendiri”. Konsep diri merupakan gambaran mental tentang diri sendiri.

Hubungan antara “self concept” dengan organisme (actual experience) terjadi dalam dua kemungkinan, yaitu “congruence” atau “incongruence”. Kedua kemungkinan hubungan ini menentukan perkembangan kematangan, penyesuaian (adjustment), dan kesehatan mental (mental health) seseorang.

Apabila antara “self concept” dengan organisme terjadi kecocokan maka hubungan itu disebut kongruen, tetapi apabila terjadi diskrepansi (ketidak cocokan) maka hubungan itu itu disebut inkongruen.

Suasana inkongruen menyebabkan seseorang mengalami sakit mental (mental illness), seperti merasa terancam, cemas, berperilaku defensif, dan berpikir yang kaku atau picik. Sedangkan kongruensi mengembangkan kesehatan mental atau penyesuaian psikologis. Ciri orang yang sehat psikologisnya adalah sebagi berikut ( Yusuf Syamsu, 2007: 145) :

  1. Dia mampu mempersepsi dirinya, orang lain, dan berbagai peristiwa yang terjadi di lingkungannya secara objektif.
  2. Dia terbuka terhadap semua pengalaman karena tidak mengancam konsep dirinya.
  3. Dia mampu menggunakan semua pengalaman.
  4. Dia mampu mengembangkan dirinya ke arah aktualisasi diri, “goal of becoming”, atau “fully functioning person”.

Baca Juga :