Unpad Akan Abadikan Jasa J.S. Badudu

Unpad Akan Abadikan Jasa J.S. Badudu

Unpad Akan Abadikan Jasa J.S. Badudu

Unpad Akan Abadikan Jasa J.S. Badudu
Unpad Akan Abadikan Jasa J.S. Badudu

Meninggalnya Prof Jusuf Syarif Badudu ternyata membuat beberapa pihak kehilangan

, tak terkecuali Universitas Padjajaran (Unpad). J.S. Badudu sendiri telah menyumbangkan tenaganya sebagai pengajar di Unpad selama 42 tahun.

Menurut Rektor Unpad Prof Tri Hanggono Achmad, pihaknya berencana menyematkan nama J.S. Badudu di salah satu gedung Fakultas Ilmu Budaya Unpad di Jatinangor. ”Kebetulan Unpad Jatinangor sedang membangun beberapa insfrastruktur, nama J.S. Badudu disematkan sebagai wujud penghargaan karena beliau telah menjadi inspirasi bagi negeri,” katanya kepada wartawan seusai pelepasan jenazah J.S. Badudu di Masjid Hijad Unpad, kemarin (13/3).

Meninggalnya J.S. Badudu , lanjut dia, harus menjadi pemicu semangat untuk dapat

mempertahankan budaya. Di saat yang bersamaan, terdapat tantangan yang sangat luar biasa untuk mengembangkan di tengah eksistensi budaya. Termasuk dalam pengembangan budaya serta bahasa menjadi kunci dari budaya.

”Saya pribadi mengenal J.S. Badudu bukan pada saat di Unpad, melainkan saat dia sering muncul di TVRI

setiap harinya sebagai tokoh nasional,” ungkapnya.

Terlebih selama di Unpad pihaknya menilai terdapat karakter dan jiwa keguruan yang menegaskan sebagai tokoh budayaan. Lebih jauh lagi, dia menganggap bahwa J.S. Badudu merupakan sosok guru sejati. Bagi dia, seluruh hidupnya diabdikan pada dunia pendidikan mencerdaskan anak bangsa.

Khususnya pendidikan bahasa Indonesia, setelah pensiun J.S. Badudu tetep aktif sebagai guru, dosen, penatar bahasa Indonesia. Bahkan aktif juga sebagai penulis artikel tentang bahasa Indonesia di surat kabar dan majalah. Ratusan tulisan pemikirannya telah tersebar di berbagai media masa.

Sejak 1977 beliau menjadi penulis atau pengisi rubrik tentang pembinaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di majalah Intisari Jakarta. ”Salah satu buku yang terkenal ialah Pelik-Pelik Bahasa Indonesia yang terbit pertama kali pada tahun 1971 dan mengalami cetak ulang berkali-kali,” ujarnya.

Sebagai guru dan dosen bahasa Indonesia selama 49 tahun, ungkap dia, J.S. Badudu pernah menerima bintang jasa Pemerintah RI. Di antaranya Satyalencana Karya Satya di tahun 1987, Bintang Mahaputra Nararya di tahun 2001, dan Anugrah Sewaka Winayaroha di 2007.

 

Sumber :

https://miralaonline.net/teks-editorial/