Upaya Pelestarian, Tiga Mahasiswa UGM Kaji Bangunan Borobudur

Upaya Pelestarian, Tiga Mahasiswa UGM Kaji Bangunan Borobudur

Upaya Pelestarian, Tiga Mahasiswa UGM Kaji Bangunan Borobudur

Upaya Pelestarian, Tiga Mahasiswa UGM Kaji Bangunan Borobudur
Upaya Pelestarian, Tiga Mahasiswa UGM Kaji Bangunan Borobudur

Tiga mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta melakukan penelitian di Candi Borobudur.

Bekerja sama dengan Balai Konservasi Borobudur (BKB) Direktorat Jenderal Kebudayaan

, mereka melakukan penelitian untuk mengetahui kerentanan gempa pada setiap bagian bangunan dari situs cagar budaya yang pernah masuk dalam 7 keajabaian dunia tersebut.

Ketiga mahasiswa tersebut yakni, Reymon Agra Medika, Zukhruf Delva Jannet, dan Yosua Alfontius. Mereka melakukan penelitian selama 5 hari, dari 3 hingga 7 Juni lalu.

“Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk tindak lanjut ke depan guna melakukan penguatan bangunan candi dengan analisis konstruksi bangunan candi,” kata Reymon, selaku ketua tim penelitian, seperti rilis yang diterima JawaPos.com, Senin (25/6).

Pada penelitian yang dilakukan, digunakan metode Mikroseismik. Yaitu mengukur getaran alami yang ada pada setiap lantai bangunan candi dengan memakai alat seismometer.

“Data getaran dari metode ini kemudian dilakukan pengolahan untuk mendapatkan nilai amplifikasi dan frekuensi natural yang kemudian digunakan untuk analisis kerentanan gempa pada bangunan candi,” katanya.

Selama proses penelitian, lanjutnya, timnya juga mendapat bantuan akuisisi

data dari anggota tim Himpunan Mahasiswa Geofisika (HMGF UGM). Mereka diantaranya adalah Alan Yudha, Rahadi Selo, Oktavianus Eko, Jum Satriani, dan Ulya Habiburrahman.

Penelitian yang dilakukannya ini merupakan upaya pelestarian Candi Borobudur yang merupakan situs warisan dunia. Menurutnya, candi yang berlatar belakang Agama Budha itu terletak pada zona rawan gempa tektonik.

Akibat oleh subduksi lempeng Samudera Indo-Australia terhadap lempeng Benua Eurasia yang terletak di sebelah selatan Pulau Jawa.

“Terbentuknya struktur geologi yang berada di sekitar Candi Borobudur,

seperti Sesar Progo yang merupakan sesar aktif yang dapat memberikan dampak buruk terhadap bangunan candi apabila terjadi pergeseran yang menimbulkan gempa bumi,” ucapnya.

Candi yang terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah ini, menurut Reymon, dari sejarah menyebut pernah runtuh. Beberapa bagian bangunannya pernah rusak akibat guncangan gempa bumi tektonik.

 

Baca Juga :